Bagaimana Sistem Ekonomi Bekerja? (catatan #2)
Saya memiliki dosen yang luar biasa di program manajemen bisnis yg saya ambil di kelas international, beliau adalah seorang expert dibidang financial engineering dan doktor pertama di indonesia di bidang derivatif. Pertanyaan saya, karena saya mengagumi beliau, apa itu derivatif dalam bahasa sederhana? Tidak berapa lama, saya membaca buku Rich Dad’s Conspiracy of The Rich yang ditulis oleh Robert T. Kiyosaki, dan saya menemukan analogi sederhana mengenai penjelasan dari derivatif itu. Robert mengatakan secara sederhana, bahwa derivatif adalah “turunan” dari sesuatu. Misalnya, jus jeruk adalah derivatif dari buah jeruk. Baju adalah derivatif dari kain. Nah, derivatif ini bisa menghasilkan derivatif lagi. Misalnya, yoghurt adalah derivatif dari susu. Frozen yoghurt adalah derivatif dari yoghurt. Istilah “derivatif” menjadi sangat sederhana ketika kita menganalogikan kedalam hal hal sederhana. Permasalahannya, ketika derivatif ini kita masukkan kedalam dunia yg kita sebut “monetary system”, atau sistem keuangan, ini menjadi salah satu alat penghancur sistem keuangan yang luar biasa. Ini seperti bom atom, yang merusak sistem keuangan hingga ke akarnya. Sebelum lebih jauh, saya akan menjelaskan bagaimana sistem keuangan bekerja, atau lebih mendasar lagi, apa sih sistem keuangan itu?
Sejarah Sistem Keuangan Dunia
Dulu, uang di cetak dengan standar emas. Jika Anda lihat uang dolar sebelum tahun 1933, disana tertulis “one dollar in gold”. Artinya, setiap satu dolar yg kita punya, nilainya di jamin dengan cadangan emas senilai 1 dolar. Artinya, kita benar benar memiliki uang senilai satu dolar, bukan hanya mata uang senilai satu dolar. Kemudian, pada tahun 1971, Presiden Amerika pada saat itu melepas standar emas pada mata uang dolar. Artinya, uang yang dicetak bukan lagi “one dollar in Gold”, tapi hanya “one dollar”. Karena tidak memiliki standar emas, uang ini bisa di cetak dengan bebas, dan karena uang ini dapat dicetak dengan bebas, maka nilainya pun menjadi fluktuatif. Dan tebak, ketika Anda bisa mencetak sebanyak mungkin uang, apa yang akan Anda lakukan? Ya, Anda akan mencetak lebih banyak yang, yang berarti, lebih banyak inflasi. Terlalu banyak uang yang beredar menyebabkan harga naik, atau bisa dikatakan dengan sederhana, nilai 1 dolar 5 tahun yg lalu akan berbeda dengan nilai 1 dolar pada masa yg akan datang. Apa yang menyebabkan emas begitu kuat? Karena emas langka. Emas memiliki nilai. Ketika Anda menciptakan uang dengan mudah, artinya, jumlah uang yang beredar terus menerus meningkat. Karena jumlah dolar yg terus menerus meningkat, artinya, dolar tidak lagi langka. Karena dolar tidak lagi langka, nilai dolar turun.
Permasalahan sebenernya bukan bermula dari zaman presiden Nixon, tapi bermula saat dibangunnya Federal Reserve, berawal dengan dibangunnya sistem bunga majemuk (riba) oleh rothschild. Saya tidak akan banyak bicara secara mendalam bagaimana sistem ekonomi ini dibuat dan bagaimana sejarahnya, tapi saya akan lebih banyak berbicara pada logika dan dampak pada kita dimasa kini dan yang akan datang.
Pada tahun 1913, Federal Reserve atau biasa disebut The Fed dibangun, berfungsi sebagai lembaga resmi pencetak uang, yang menjalankan serta mengendalikan sistem moneter. Di Indonesia kita juga memilikinya yang disebut dengan Bank Indonesia. Pada saat itu, dicetaklah mata uang dengan berstandarkan emas, seperti yg sudah di bahas sebelumnya. Untuk setiap satu dolar yg dicetak, The Fed harus menyimpan cadangan senilai satu dolar di brangkas. Permasalahannya adalah, The Fed tidak benar benar memiliki cadangan emas sehingga mereka tidak bisa mencetak uang. Maka, pada tahun 1933, dengan alasan untuk “menyelamatkan ekonomi dari krisis”, The Fed mengeluarkan aturan dengan ancaman 10 tahun penjara untuk memaksa setiap warga amerika menyerahkan emas kepada negara untuk ditukar dengan nilai mata uang yg setara dengan emas yg kita berikan. Setiap emas dalam bentuk koin, ataupun batang, ataupun uang, wajib diserahkan kepada The Fed dan ditukarkan dengan uang. Bayangkan, uang Anda ditukar dengan kertas. Sekarang, The Fed bisa mencetak mata uang karena mereka memiliki cadangan emas. Hal ini belum menjadi masalah jika memang mereka mencetak uang sesuai dengan cadangan emas yang mereka simpan. Permasalahannya, siapa yg bisa menahan godaan untuk tidak mencetak uang lebih banyak jika kita memang bisa melakukannya?
Pada tahun 1944, di mulailah era brettonwoods, era dimana 44 negara didunia menggunakan sebuah sistem ekonomi yg sama untuk menyelamatkan krisis ekonomi dunia yang disebabkan oleh hutang yg besar akibat perang dunia II. Pada saat itu, disepakat bahwa cadangan uang dunia di simpan dalam bentuk dolar yang dijaminkan dengan emas. Maka, jadilah dolar sebagai mata uang standar perdangan internasional karena kredibilitasnya dengan standar emas. Saat itu, amerika memiliki masalah yang sangat besar. Hutang mereka terlalu banyak. Mereka harus membiayai perang dunia II, perang vietnam, serta krisis krisis yang melanda Amerika. Sehingga, apa yang terjadi? Amerika dapat mencetak uang, bukan? Maka, Amerika mulai mencetak uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Artinya, mereka yang tadinya mencetak “mata uang” sebagai representasi “uang” yang mereka punya, beralih menjadi “mencetak uang” sebagai representasi “hutang”. Mereka mencetak uang melebihi cadangan yang mereka miliki, untuk menutupi hutang hutang mereka. Hal ini membuat marah beberapa negara, sehingga beberapa negara menukar dolar yang mereka punya dengan emas. Di mulai oleh perancis, yang menukar jutaan dolar yang mereka punya dengan emas, diikuti oleh negara lain. Dolar amerika kehilangan kredibilitasnya. Semua negara menukar dolar yg mereka punya dengan emas asli yg tersimpan sebagai cadangan dolar di Fed. Masalah selanjutnya adalah, amerika tidak memiliki cadangan emas sejumlah uang yang mereka cetak, karena mereka mencetak uang lebih banyak dari cadangan emas yg mereka punya. Maka, pada taggal 15 Agustus 1971, Presiden Nixon mengumumkan untuk mencabut standar emas pada dolar. Artinya, setiap dolar tidak lagi berstandarkan emas. Anda tidak bisa lagi menukar dolar yang Anda miliki dengan uang asli. Yang artinya, satu dolar yang Anda miliki adalah kertas bertuliskan satu dolar, bukan lagi kertas yang merepresentasikan emas senilai satu dolar.
Pencabutan standar emas ini adalah solusi dari jangka pendek dari masalah saat itu ketika negara-negara menukarkan dolar mereka dengan emas, sedangkan amerika tidak memiliki emas yang cukup untuk ditukarkan dengan dolar. Tapi, ini menjadi bencana baru. Sebelum 1933, setiap uang dolar bertuliskan “in gold”, artinya “dalam emas”, yang artinya setiap dolar dijaminkan dalam emas. Saat ini, setiap dolar hanya bertuliskan “alat pembayaran yang sah”, yang artinya, itu hanya kertas yang tidak memiliki standar jaminan apapun kecuali kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dalam menjalankan sistem ekonomi. Satu-satunya hal yang membuat dolar bernilai adalah jumlahnya yang beredar. Semakin langka suatu barang, maka semakin berharga nilainya. Maka kenapa saya bilang “standar jaminan nilai dolar sudah tidak bergantung pada emas, tapi pada kepercayaan masyarakat kepada pemerintah”. Permasalahannya, apakah pemerintah bisa dipercaya atau tidak? Apa kita yakin pemerintah tidak akan mencetak uang sebanyak mungkin saat mereka mampu mencetaknya?
Ada grafik yang sangat menarik yang saya ambil dari Federal Reserve of St. Louis amerika.
Ini adalah grafik supply uang yang dicetak oleh The Fed. Anda lihat, bagaimana pada tahun 1971 grafik jumlah uang yg dicetak meningkat secara cukup signifikan. Uang mulai dicetak secara berlebih sejak beberapa tahun sebelum tahun 1971 saat amerika mulai mencetak “mata uang” hutang untuk melunasi hutang hutangnya. Bagi saya, grafik ini adalah grafik yang amat sangat mengerikan. Sejak tahun 1971, grafik meningkat semakin tinggi. Artinya apa? Semakin hari dolar menjadi semakin tidak langka. Uang yang beredar semakin hari semakin banyak. Dan bencana dimulai. Anda lihat grafik sejak tahun 2008? Jika grafik pada tahun 1971 – 2008 lebih merupakan grafik menanjak naik, pada tahun 2008 grafiknya hampir terlihat seperti garis vertikal. Artinya, pada saat itu, pemerintah amerika mencetak uang secara gila-gilaan yang disuntikkan kedalam sistem ekonomi keuangan melalui dana talangan, dan sebagainya. Dengan grafik ini, artinya, saat ini, amerika sedang mencetak uang dengan jumlah jauh lebih besar dari sebelumnya untuk memenuhi pengeluaran pengeluaran serta melunasi hutang hutang amerika. Ini artinya, perekonomian sedang dalam masalah, karena dengan jumlah peningkatan uang yg ada, itu artinya, ekonomi sedang menghadapi bencana inflasi yang amat sangat besar. Resesi yang terjadi pada tahun 2008 baru permulaan menuju depresi baru. Senjata ampuh untuk memiskinkan seluruh negara.
Mungkin anda adalah bukanlah seorang yg melek di bidang ekonomi, tidak pernah tertarik di bidang ekonomi, sehingga tidak mengerti apa bahaya dari inflasi. Saya akan contohkan, misalnya Anda memiliki pendapatan sebesar 10juta perbulan. Kemudian pada tahun berikutnya, gaji anda naik menjadi 11 juta. Tapi inflasi pada tahun berikutnya sebesar 20%, artinya, uang 10 juta pada tahun kemarin senilai dengan uang senilai 12 juta pada tahun berikutnya. Untuk lebih disederhanakan, secara nominal, Anda mungkin sangat diuntungkan dengan kenaikan gaji senilai 1 juta. Tapi, anda tidak sadar bahwa Anda sedang dirugikan senilai 1juta, karena 10 juta pada tahun kemarin setara dengan 12 juta pada tahun berikutnya. Berikut grafiknya.
| Tahun Pertama | Tahun Kedua | |
| Nilai | 10 juta | 12 juta (karena inflasi 20%) |
| Gaji yang Anda terima | 10 juta | 11 juta |
| Kerugian Anda | - | 1 juta |
Jika Anda lihat tabel tersebut, Anda seolah di untungkan dengan naiknya nominal pendapatan Anda senilai 1 juta. Padahal, Anda tidak sadar bahwa Anda sedang dirampok oleh para “konspirator pencetak uang” sejumlah 1 juta dengan inflasi tersebut. Permasalahannya, ini baru inflasi. Bagaimana dengan resesi? Resesi adalah inflasi dengan tingkat yang sangat besar. Bagaimana dengan depresi? Depresi adalah tingkatan di atas resesi.
Ada sebuah cerita untuk mempermudah Anda memahami kondisi depresi. Pada suatu saat, ada seseorang membawa uang sebanyak satu gerobak ke toko hanya untuk membeli sebuah roti (bayangkan, berapa jumlah uang yg harus dikeluarkan hanya untuk sebuah roti). Saat hendak membeli, uang serta gerobaknya ditinggal terlebih dahulu di depan toko. Ketika dia kembali untuk membayar, dia kaget, karena gerobaknya hilang dan uangnya masih ada dengan kondisi dibuang begitu saja. Artinya, pada saat itu, gerobak tersebut jauh lebih berharga dari setumpuk uang yang dia bawa. Itulah gambaran sebuah depresi, yang konon cerita tersebut benar2 terjadi di jerman pada saat depresi ekonomi di jerman. Zimbabwe mengalami inflasi terbesar didunia hingga 5000miliar persen. Bayangkan, 5000 Miliar persen !!! artinya, harga barang berubah 3 kali dalam satu hari, sehingga ada kebutuhan untuk membeli barang di pagi hari dan menjual di malan hari, yang berarti kebutuhan yang bagus. Kondisi ekonomi hancur berantakan, kemiskinan dimulai, Anda bekerja keras dengan bayaran yang lebih sedikit meskipun nominal yg Anda terima lebih banyak. Ketika Anda menerima lebih sedikit, artinya Anda dirampok. Inilah yang saat ini sedang menanti kita.
Comments
4 Responses to “Bagaimana Sistem Ekonomi Bekerja? (catatan #2)”Trackbacks
Check out what others are saying...-
[...] masalah hutang dan inflasi ini, temen temen bisa baca catatan saya sebelumnya, di catatan #1 dan catatan #2. Klo mau lebih advance lagi, bisa baca yang catatan [...]








Keren gan…lanjutkan *PERTAMAX
Salut!! angkat topi buat agan! salam kenal dari anak IMT juga.
Nais gan