Bagaimana memahami sebuah investasi itu Halal atau tidak ? (catatan #5)

Sebelum menulis mengenai alasan kenapa saya tidak berinvestasi di emas, saya akan membahas terlebih dahulu dasar dasar investasi, untuk membedakan mana yang spekulasi dan mana yang investasi. Ini sangat penting untuk memahami bagaimana sebuah investasi dilakukan, karena cara investasi yang berbeda, menentukan apakah sebuah investasi itu judi atau benar-benar investasi. Dari situ, baru kita bisa mengurai kenapa saya tidak menyarankan untuk berinvestasi di emas.

Saya kurang memahami secara syariah bagaimana sebuah investasi dikategorikan haram atau tidak. Tapi saya akan bicara dari sisi teknis bagaimana investasi itu masuk dalam kategori judi atau tidak.

Sebelum masuk kedalam penjelasan, ada dua hal yg harus dipahami terlebih dahulu. Yang pertama adalah perbedaan antara nilai (value) dan harga (price). Keduanya sangat berbeda, tapi seringkali disamakan. Contohnya adalah uang dirham. Misalnya, pada zaman dulu, 1 dirham (uang perak) dapat membeli 1 ekor ayam. Pada masa sekarang, setelah 1300-an tahun berlalu, 1 dirham masih tetap dapat membeli 1 ekor ayam. Artinya, value 1 dirham = 1 ekor ayam. Tapi, jika di rupiahkan, mungkin beberapa tahun yg lalu, 1 dirham senilai dengan 5 rupiah, dan sekarang senilai beberapa puluh ribu rupiah. Artinya, price (harga)nya berubah, tapi value nya tidak bertambah. Bisa dikatakan, value(nilai) adalah benefit yg didapat dari suatu produk. Sedangkan price(harga) adalah nominal yg dibutuhkan untuk mendapatkan benefit tersebut.

Untuk lebih menyederhanakannya, seringkali ketika kita membeli suatu barang, kita familiar dengan istilah “kemahalan” atau “sangat murah”. Kemahalan artinya, price yg kita bayarkan lebih besar dari value yg kita dapat. Sedangkan “sangat murah” artinya price(harga) yg di keluarkan lebih murah dari value yg kita dapat. Sampai sini, mungkin sudah cukup jelas perbedaannya.

Perbedaan kedua adalah investasi dan spekulasi. Perbedaan kedua inilah yg sebenarnya menjadi pembeda antara judi dan investasi. Banyak orang berpikir bahwa spekulasi adalah investasi. Mereka mendefinisikan investasi sebagai “mengeluarkan uang untuk mendapatkan keuntungan”. Sementara pada prakteknya, tidak selalu seperti itu. Orang orang yg datang ke Las Vegas pun mengeluarkan uang, untuk mendapatkan keuntungan, tapi mereka dikategorikan sebagai penjudi, bukan investor. Permasalahannya, spekulator tidak ingin disebut sebagai penjudi, karena mereka menggunakan “ilmu investasi” untuk berspekulasi, yg jelas salah total karena apa yg mereka kira sebagai “teori investasi” disitu sebenarnya adalah “teori spekulasi”. Untuk judi di Las Vegas pun tetap membutuhkan ilmu, tapi tetap saja, mereka dikatakan penjudi, entah itu penjudi kelas atas(dewa judi) atau penjudi kelas medioker. Untuk membedakannya kali ini, saya akan membawa instrumen saham, bukan emas.

Beberapa bulan yg lalu, saya masuk (menyusup) ke kelas senior untuk mengambil mata kuliah derevatif. Saya masuk kelas itu 100% karena saya ingin tahu bagaimana sebenarnya yg dipelajari di kelas derevatif. Saat itu, subjek yg dibahas adalah mengenai tools dan cara-cara untuk berinvestasi. Ini merupakan topik yg sangat menarik, pikir saya. Dsitu dijelaskan bagaimana strategi investasi saat bear market (pasar turun) dan bull market (pasar naik). Dia menjelaskan, ketika pasar sedang turun, saya disarankan untuk membeli option, sedangkan ketika naik, membeli saham. Ada teori-teori strategi, seperti short call, long call, dan banyak lagi, sebagai strategi pelengkap untuk setiap kondisi pasar. Setiap strategi di lengkapi dengan rumus dan potensi keuntungannya. Hal ini terlihat seperti investasi, bukan? Percayalah, ini adalah spekulasi, dan inilah yg banyak dan sangat umum diterapkan di dunia investasi saham. Saya akan mencoba membahasakan dengan lebih sederhana.

Spekulasi, artinya “memperkirakan”. Kita harus tahu, apa saja sih ciri ciri orang melakukan spekulasi? Bagaimana mereka memperkirakan masa depan dari nilai suatu saham? Yang pertama adalah grafik historis. Mungkin anda familiar dengan cara umum seperti ini: bagaimana tren saham tersebut dalam 6 bulan terakhir, apakah naik atau turun? Jika naik, diperkirakan saham ini akan terus naik sampai beberapa bulan kedepan. Jika peningkatannya signifikan, berarti saham ini kinerjanya sangat bagus, dan ini saham yg sangat baik untuk dibeli. Ini adalah contoh pertama dari ciri ciri spekulasi. Mereka memperkirakan kinerja saham di masa depan dari historis grafik kinerja dalam beberapa periode terakhir. Permasalahannya, kita tidak tahu, apakah ketika kita membeli saham yg kita perkirakan akan naik dalam beberapa bulan kdepan itu, ternyata malah anjlok di hari berikutnya setelah kita membelinya. Artinya, itu hanya spekulasi.

Ciri ciri kedua adalah mereka menggunakan teori teori atau alat alat investasi, seperti teori short call, long call, dsb. Ini jelas adalah teori spekulasi, bukan teori investasi. Cara kerjanya seperti ini: Anda perkirakan apa yg akan terjadi dimasa depan, kemudian anda sesuaikan perkiraan Anda dengan strategi strategi tersebut, apakah akan short call, long call, short put, atau long put. Strategi strategi tersebut hanyalah strategi untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalisasi resiko dari “ketidakpastian spekulasi yg kita perkirakan”. Misalnya, spekulasi kita salah, kita bisa meminimalisasi resiko dengan menggunakan strategi yg tepat. Saya tidak akan bahas setiap strategi itu karena saya tidak tertarik untuk membahas teori spekulasi, tapi teori teori spekulasi tersebut sudah banyak dibahas dan mudah dicari di internet jika ingin memahami lebih dalam.

Ada sebuah kecacatan dari sebuah teori spekulasi. Warren Buffet pernah mengatakan sebuah prinsip, “serakahlah saat orang lain ketakutan, takutlah saat orang lain serakah”. Prinsip ini bukan sekedar prinsip “manis” atau prinsip “motivasi”, tapi ada dasar teknis mengapa Buffet mengatakan demikian. Jika anda berpikir, kenaikan sebuah saham ditentukan dari kinerja perusahaan SAJA, Anda salah besar. Faktor utama kinerja sebuah saham adalah opini publik terhadap saham tersebut. Contohnya, harga saham XYZ dari industri teknologi saat ini sangat jelek. Kemudian, booming bahwa “di masa depan, teknologi akan menjadi investasi paling hebat yg pernah ada”. Masyarakat mulai ada yg “berinisiatif” investasi di saham XYZ. Karena ada masyarakat yg berinvestasi, maka harga saham tersebut tentu menjadi naik. Kemudian, orang lain melihat kinerja saham tersebut dan berkata, “wow, saham ini 3 bulan terakhir kinerjanya sangat bagus. Saya harus beli saham ini.” Maka, semakin banyaklah orang yg membeli saham XYZ, yang berdampak pada semakin meningkatnya harga saham tersebut. Dari kasus ini terlihat, mereka bahkan tidak peduli bagaimana XYZ bekerja, mereka melihat dari historis saham tersebut. Inilah yg saya maksud dengan spekulasi. Kaitannya dengan prinsip Buffet tadi adalah, kenapa kita harus takut saat orang lain rakus? Ketika orang lain rakus, maka mereka akan ramai ramai membeli saham tersebut. Seperti kasus XYZ, orang pada umumnya rakus mencari keuntungan, sehingga harga saham XYZ melejit dengan tajam. Permasalahannya, saham tersebut meningkat melebihi value perusahaan tersebut. Misalnya, harga saham XYZ sebenarnya hanyalah 5 dolar per lembar, jika kita meng-analis aset aset dan performance dari laporan keuangan perusahaan tersebut. Tapi, harga di pasar saat ini sudah mencapai 9 dolar, dan terus meningkat. Logika paling mudah adalah naiknya harga baju menjelang lebaran. Mungkin, harga baju yg normalnya 30 ribu, menjadi 50 ribu karena banyaknya permintaan. Itulah yg terjadi di saham. Masalahnya, ketika harga saham tersebut sudah terlalu mahal, dia akan turun dengan tajam ketika orang pada saat bersamaan mulai menjual saham mereka.

Rakus saat orang lain takut, adalah prinsip kebalikan dari yg tadi. Ketika orang lain takut, harga saham cenderung jatuh dari harga asli. Kenapa? Karena ketika orang takut, tidak ada yg mau membeli saham. Ketika tidak ada yg membeli saham, harga saham akan jatuh, bahkan bisa sampai lebih murah dari aset aslinya. Contohnya, Anda berjualan kaos seharga 25 ribu. Modal Anda per-kaos adalah 25 ribu. Tapi karena tidak ada yg membeli, Anda perlahan terus menurunkan harganya. Ketika sudah masuk angka 20ribu, masih tidak ada yg membeli. Anda terus menurunkan sampai 15 ribu, dengan logika, meskipun rugi, yg penting tidak terlalu banyak. Padahal, value kaos tersebut adalah 20ribu, tapi Anda menjual seharga 15 ribu. Itulah yg juga terjadi di saham ketika orang ketakutan.

Kasus yg saya jelaskan ini bukan hanya omong kosong, tapi itulah yg terhadi ketika kejatuhan saham-saham dotcom di awal tahun 2000, dan juga krisis tahun 2008, subprime mortgage. Saat itu, orang orang berbondong bondong berinvestasi di saham dotcom, tanpa melihat seperti apa value yg sebenarnya dari perusahaan. Ya, dalam waktu dekat, mereka mendapatkan sedikit keuntungan dari banyaknya investor yg masuk. Tapi, ketika banyak investor mulai keluar dengan menjual saham karena ingin mengambil margin keuntungan, kinerja saham mulai jatuh, dan akhirnya ketika saham saham tersebut terlalu tinggi dari nilai aslinya, maka jatuhnya pun menjadi seperti hantaman, menukik turun dengan tajam, dan menciptakan kerugian yg sangat besar bagi para investor dan juga perusahaan.

Berlanjut kepada investasi. Lalu, seperti apa praktik investasi yg sebenarnya?

Untuk mempermudahnya, begini saja. Jika Anda berani membeli saham TANPA melihat grafik historis kinerja saham tersebut dalam beberapa bulan terakhir, apakah itu turun atau naik, saya katakan Anda sudah masuk salah satu kriteria menjadi investor. Bukan spekulator. Investor tidak membeli saham berdasarkan historis performance dari saham tertentu, tapi historis performance dari laporan keuangan perusahaan tersebut. Ketika berinvestasi, yg pertama harus diketahui adalah, bagaimana laporan keuangannya dalam beberapa tahun terakhir. Apakah perusahaan tersebut mencetak profit yg cukup baik? Bagaimana dengan nilai aset perusahaan tersebut? Apakah asetnya banyak, atau hutangnya yg banyak? Apakah aset aset perusahaan tersebut cukup kokoh untuk menjadi fondasi hutang hutang-nya? Jika perusahaan tersebut memiliki aset yg cukup baik dan kemudian Anda melihat dalam beberapa tahun terakhir mencetak profit yg menguntungkan, itu adalah awal pengambilan keputusan sebuah investasi. Hal yg kedua adalah manajemen dan industrinya. Kita juga harus jeli untuk mengetahui bagaimana kinerja manajemen dan bagaimana prospek industri tersebut. Misalnya, perusahaan batu bara. Dalam 10 tahun terakhir, mereka mencetak keuntungan yg cukup baik, dan juga aset mereka sangat besar. Tapi kita tidak melihat faktor industri, dimana di tahun berikutnya, cadangan batu bara sudah jelek, teknologi sudah berubah ke green teknologi, dan juga manajemennya sudah berganti (misalnya). Itu juga salah, karena ketika kita membeli saham tersebut, industrinya sudah masuk titik jenuh dan tidak lagi sanggup mencetak profit sesuai yg diharapkan. Ini terjadi sebenarnya pada Telkom, ketika mereka membangun infrastruktur fixed-line, dan mencetak aset dan profit yg begitu besar. Tapi seiring dengan berubahnya industri telekomunikasi ke mobile industri, maka aset yg ada menjadi beban dan profit sudah tidak lagi dapat dicetak dengan baik.

Sebenarnya, berinvestasi memang tidak semudah itu (dan tidak sesulit yg dibayangkan juga). Penjabaran ini hanya sebagai bentuk penyederhanaan untuk membedakan investasi dan spekulasi, supaya tidak menyesatkan dalam pengambilan keputusan. Ketika Anda melihat aset dan profit baik, kemudian melihat potensi industri yg begitu besar dimasa depan, barulah Anda meliat harga saham pada SAAT INI. Misalnya, dari hasil hitungan Anda, saham perusahaan XYZ nilai (value) nya 40 dolar. Sedangkan di pasar, harga(price)nya adalah 25 dolar. Jika Anda berinvestasi dari kacamata investor, Anda pasti akan berinvestasi. Tapi jika Anda melihat dari kacamata spekulator, Anda akan mengesampingkan nilai nya, tapi malah menghitung historis harga sahamnya dalam beberapa bulan terakhir. Misalnya, meskipun harganya 25 dolar, tapi dalam 6 bulan terakhir saham itu terus turun, Anda tidak akan mau membelinya. Meskipun saham tersebut lebih murah dari value-nya, bukan itu yg ingin Anda lihat.  Karena “naluri” spekulator adalah melihat “harga historis” sebuah saham, sedangkan seorang investor akan melihat “value saham dan membandingkan dengan harganya, tidak peduli apakah publik berpikir saham itu bagus atau tidak, sahamnya naik atau tidak.

Berangkat dari pemahaman perbedaan antara Value dan Price, serta mengetahui bagaimana Investor dan Spekulator bekerja, menjadi dasar untuk memahami bagaimana sebuah investasi dikategorikan sebagai judi atau tidak. Spekulator adalah penjudi yg menggunakan alat alat dan instrumen hitung-hitungan judi, sementara investor menggunakan perhitungan selayaknya dia membeli barang. Spekulator berani membeli saham yg LEBIH MAHAL dari nilainya, selama kinerja saham tersebut di bursa saham terus positif, dan tidak berani membeli saham yg LEBIH MURAH dari nilai aslinya, hanya karena historis nya negatif. Sebaliknya, investor tidak peduli terhadap nilai historis, apakah itu turun atau naik, karena mereka hanya melihat potensi dan kinerja dari perusahaan serta industri yg bersangkutan.

Terakhir, saya katakan, YA, spekulator bisa menciptakan banyak uang (capital gain) untuk jangka pendek, tapi sangat kecil kemungkinan untuk jangka panjang jika tidak di-barengi dengan keberuntungan. Sedangkan investor, lebih punya potensi untuk mencetak keuntungan jangka panjang, seperti halnya Waren Buffett dengan Berkshire Hathaway-nya. Dengan memahami perbedaan ini, saya akan menjelaskan dengan lebih mudah mengapa saya tidak berinvestasi di emas ditulisan saya selanjutnya yg insyaAllah saya post dalam waktu sangat dekat. Wallahua’lam.

 

Comments
5 Responses to “Bagaimana memahami sebuah investasi itu Halal atau tidak ? (catatan #5)”
  1. tika dw says:

    Waw..nice share..
    Berarti selama kita bertindak sebagai investot, maka saham itu halal?
    Lalu bagaimana caranya kita tahu value dari suatu saham? Biasanya yang dikasih liat cuma grafiknya..

    • syauqimujahid says:

      humm.. buat tau value dari suatu saham, itu ada hitungannya yg bisa dbilang, “nyekolah”, hhehee . . . ada rumusnya, next time mungkin yah… karena memang gak sederhana :D

  2. Angga says:

    Intinya,, biasanya spekulator itu dapet untung dari Capital Gain, klo investor dari Dividen ya Gan?

  3. refeli says:

    saya dulu buta ekonomi. jadi sedikit tau dari tulisan2 yg km buat. nice to be shared.

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. [...] This post was mentioned on Twitter by Olivia Smith and bayuhebat, Nurantono Setyo S.. Nurantono Setyo S. said: Artikel Menarik dari @mikhaelsyauqi tentang Investasi.. happy reading :) –> http://bit.ly/fIEod3 [...]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 173 other followers