Dasar Dasar Pertimbangan Investasi Emas (Catatan #6)

Ok, (bingung mau nulis apa).

baiklah, hum…

sebelumnya saya berjanji mau menulis tentang “alasan alasan knapa saya (tidak) berinvestasi di emas”, tapi mengingat saya juga masih dangkal ilmunya dan terlalu arogan jika saya mengatakan tulisan saya adalah sebuah rekomendasi untuk “tidak” berinvestasi pada suatu instrumen tertentu, maka saya mengganti judulnya menjadi “dasar investasi emas”.

Kita mulai dari pertanyaan pertanyaan yg mendasar mengenai emas, seperti “apa yg Anda pikirkan mengenai emas?”, “mengapa mayoritas orang sangat tertarik untuk berinvestasi di emas?”, “bagaimana sesungguhnya pergerakan harga emas itu terjadi?”, dan juga “apakah harga emas akan selalu naik dan memberikan return yg tinggi?”. Penting untuk membahas hal ini mengingat sangat konyol jika kita berinvestasi pada sesuatu sedangkan kita tidak memahami bagaimana cara kerjanya.

Pertama tama, kita lihat dulu, hal hal apa saja yg menjadi penentu harga (price) emas.

  1. nilai (value) emas tersebut
  2. inflasi
  3. ekspektasi para investor terhadap emas.

Yg pertama adalah nilai (value) emas. Perlu diketahui, value emas hampir tidak pernah berubah dari masa ke masa. Seperti yg saya jelaskan di tulisan saya yang sebelumnya, misalnya, jika satu dinar emas bisa dipakai untuk membeli 1 ekor kambing 1400 tahun yg lalu, maka 1 dinar saat ini pun dapat membeli 1 ekor kambing. Tidak terdapat perubahan yg signifikan dalam 1400 tahun terhadap nilai emas ini. Emas cenderung stabil terhadap inflasi, karena kelangkaan emas yg tidak dapat di produksi begitu saja seperti halnya dolar. Kembali kepada filosofi dasar sebuah nilai, sesuatu dikatakan bernilai ketika hal tersebut langka. Semakin langka suatu barang, akan semakin tinggi value-nya. Berlian sangat sulit didapat, maka dari itu berlian sangatlah bernilai (valuable). Bandingkan dengan batu sungai yg mudah didapat, sehingga nilainya (jika ada) sangat rendah. Sehingga dari perspektif nomor satu, bisa dikatakan, ya, emas memiliki nilai yg stabil dibandingkan kita menyimpan uang kertas. Kita bisa semudah kita mencetak uang kertas, tapi tidak mudah mencetak emas. Ada persediaan terbatas dari seluruh emas yg ada di dunia. Tapi, perlu dicatat, nilai emas tidak dapat berkembang. Ya nilainya tidak turun, tapi tidak juga naik.

Beberapa orang bertanya, “tapi kemarin saya melihat harga emas turun”. Perlu diingat, harga(price) dan nilai(value) merupakan dua hal yg berbeda. Karena harga (price) tidak saja ditentukan oleh nilai(value), tapi juga oleh 2 faktor lainnya yang akan dibahas selanjutnya.

Yg kedua adalah inflasi. Inflasi merupakan bahasan yg panjang, pada dasarnya. Inflasi terjadi ketika nilai uang kertas menjadi turun. Contohnya, ketika uang 1 juta 10 tahun yg lalu, tentu berbeda dengan uang 10 juta saat ini. Nominal price-nya tetap 1 juta, tapi nilai (value)nya berbeda, tergantung berapa tingkat inflasinya. Jika pertahun rata2 inflasinya adalah 3%, berarti nilainya secara keseluruhan turun sejumlah 30% dalam 10 tahun.

Dari sini bisa kita kaitkan hubungannya dengan emas pada poin pertama. Emas sangat “kuat” melawan inflasi, sedangkan uang kertas tidak. Ketika setiap tahunnya nilai emas tetap bertahan, nilai uang kertas terus turun secara tidak menentu. Artinya, setiap kali terjadi inflasi, harga (price) emas menjadi naik. Perlu dicatat dengan baik, harga emas menjadi naik bukan karena nilai (value)nya naik, tapi karena nilai uang kertas yg turun. Jadi ketika orang berpikir “ayo berinvestasi di emas karena harganya terus naik”, kita harus lebih jeli melihatnya. Harga naik ini disebabkan oleh apa? Setiap keputusan investasi yg kita ambil harus selalu berdasarkan nilai (value), bukan harga (price). Harga seringkali menipu. Seperti tulisan saya yg sebelumnya, harga saham bisa jadi kemahalan atau kemurahan. Tapi nilai saham tidak pernah menipu. Nilai saham merepresentasikan kekuatan bisnis sebuah perusahaan. Begitupula dengan emas. Ketika kita mengambil keputusan untuk berinvestasi di emas, patut diperhatikan, apa yg menjadi pertimbangan kita? Apa tujuan investasi kita? Yg akan saya bahas lebih lanjut di akhir tulisan ini.

Ketiga adalah ekspektasi para investor terhadap emas. Jika kita tadi berbicara mengenai “hukum kelangkaan”, yang menjadikan emas begitu stabil nilainya, sekarang kita akan berbicara mengenai “hukum permintaan” yg umum terjadi pada investasi saham.  Meskipun nilai emas cenderung stabil, dan harganya berbanding lurus dengan inflasi (jika kita merujuk pada poin no 2), tapi jangan melupakan hal terakhir, bahwa sejak emas diperdagangkan dalam dunia investasi, maka harganya juga dipengaruhi oleh ekspektasi spekulan terhadap emas. Ketika banyak investor “tertarik” membeli saham, maka harganya cenderung naik karena meningkatnya permintaan. Ketika tidak ada peminat, harganya cenderung turun karena banyaknya orang yg menjual dan sedikitnya orang yg membeli. Ini merupakan prinsip dasar ekonomi, yg mempengaruhi harga emas. Ini menjawab pertanyaan tadi, “kemarin harga emas turun, padahal inflasi cukup tinggi yg artinya seharusnya saham naik”. Kita harus lihat instrumen kedua, yaitu bagaimana perilaku para investor terhadap emas. Contohnya, beberapa bulan terakhir, di akhir 2010 dan awal 2011, semua majalah keuangan mulai dari businessweek sampe the economist membahas tentang bagaimana “attraktif”nya investasi emas. Seorang teman sampe mem-posting bahwa “harga emas akan naik sampe 1 juta per gram di tahun 2015”. Tentu, semua orang melihat potensi itu, dan berbondong-bondong untuk berinvestasi di emas. Mereka lupa akan 3 faktor tadi. Pertama, mereka tidak sadar bahwa mereka membeli sesuatu yg “nilainya tetap, tidak berkembang”. Mereka juga lupa, bahwa faktor naiknya emas adalah karena inflasi. Ketiga, mereka lupa, emas naik karena banyak dari mereka yg berpikiran untuk berinvestasi di emas sehingga permintaan menjadi meningkat.

Ini merupakan hipotesa saya yg belum saya analis lebih jauh validitasnya. Tapi kita harus melihat apa yg terjadi dengan ekonomi dunia beberapa bulan terakhir yang menyebabkan harga emas meningkat tajam. Pertama, inflasi. Sejak krisis tahun 2008, Amerika terjebak hutang yg luar biasa besar. Ekonomi mereka terancam. Hal ini memaksa mereka untuk memberikan dana talangan kepada perusahaan perusahaan yg membutuhkan (baca: terancam bangkrut). Tahun 2009, amerika memberikan 700 Miliar dolar untuk Bailout kepada perusahaan-perusahaan tersebut. Pertanyaannya adalah, darimana Amerika memiliki uang sebesar itu? Sangat mudah, amerika mencetak uang senilai 700 Miliar dolar sebagai dana talangan. Artinya, ketika ada “tambahan uang” yang beredar sejumlah 700 Miliar dolar, dolar semakin tidak langka. Persediaan dolar yg beredar semakin meningkat. Karena dolar semakin banyak, tidak lagi langka, maka terjadilah inflasi dengan peningkatan yg tidak sedikit. Karena inflasi meningkat, maka harga emas pun ikut meningkat, karena tidak seperti uang kertas yg nilainya terus turun, emas cenderung stabil. Awal tahun 2011, Amerika mencetak lagi 600 Miliar dolar untuk memperlemah mata uang mereka terhadap cina, dengan maksud untuk menyeimbangkan ekspor impor mereka yg selama ini kalah bersaing dengan cina (baca catatan #4). Artinya, lebih banyak lagi dolar yg beredar di Amerika, yg berdampak pada meningkatnya inflasi. Semakin inflasi meningkat, semakin harga (price) emas meningkat. Berikut adalah tabel pencetakan dolar oleh Amerika yg meningkat tajam dalam 3 tahun terakhir yg mempengaruhi inflasi. Tabel ini sangat mengerikan, karena artinya, terjadi inflasi besar besaran, yang merupakah hal yg tidak aneh jika harga emas terus meningkat. Dan perlu diketahui, harga yg meningkat, bukan berarti Nilai yg meningkat.

Disitu jelas terlihat bahkan jumlah uang yg beredar yg dicetak saat ini berjumlah kurang lebih 2 kali lipat dari 3 tahun yg lalu. Ini artinya, wajar jika harga emas yg memiliki value stabil, ikut meningkat dengan cukup tajam. tapi ini tidak berarti kita mendapatkan profit, karena keuntungan yg kita peroleh hanya keuntungan koreksi inflasi, bukan peningkatan nilai emas tersebut.

Ketika harga emas yg meningkat dipicu oleh inflasi yg sengaja dibuat oleh Amerika, hal ini “tercium” oleh para investor yg melihat bahwa “harga emas meningkat dengan cukup tajam”. Akhirnya beberapa investor turun untuk berinvestasi di emas, meningkatkan demand (permintaan) emas, dan semakin meningkatkan harga emas melebihi nilai (value) aslinya. Contohnya, value emas per-gram saat ini adalah 400ribu. Tapi karena banyaknya permintaan akan emas, harga menjadi naik sampai menyentuh 500ribu. Kemudian, saat lebaran, ketika banyak orang butuh uang, mereka secara serempak menjual emas, yang membuat harganya turun kembali ke titik semula, 400ribu per gram.

Oke, saya coba kembali merangkum 3 faktor tadi yg menentukan fluktuasi harga emas. Yg pertama, harus selalu diingat bahwa value emas selalu tetap (stabil), hanya harga-nya yg berbeda. Kedua, harga emas cenderung naik bukan karena value(nilai)nya naik seperti halnya perusahaan yg terus berkembang menjadi besar, tapi karena inflasi yg berkembang. Ketiga, harga emas juga ditunjang oleh spekulasi investor terhadap emas. Semakin baik spekulasinya, semakin tinggi harganya. Perlu diingat, semakin tinggi melambung harganya, maka akan  menjadi bubble. Seperti hal-nya balon yg terus ditiup untuk terus menjadi lebih besar, akan ada titik dimana balon tersebut meledak dan kembali seperti keadaan semula. Begitupula dengan emas (maupun saham).

Pertimbangan pertimbangan untuk investasi emas

Pertimbangan pertama adalah apa tujuan kita berinvestasi di emas. Apakah kita investor aktif atau pasif. Investasi emas tidak seperti investasi pada perusahaan. Perusahaan cenderung berkembang (atau mundur), menghasilkan profit, dan mampu meningkatkan nilai (value). Contohnya, aset suatu perusahaan saat ini 10 Triliun, mungkin 10 tahun mendatang menjadi 15 Triliun. Artinya, nilai perusahaan tersebut meningkat. Tapi, tidak dengan emas. Nilai (value) emas tetap begitu dari dulu hingga sekarang. Emas merupakan emas, tidak beranak, tidak berkembang, tidak menjadi besar, tidak juga menjadi kecil. Emas merupakan barang yg langka yg membuatnya memiliki nilai.

Dari sisi ini bisa kita lihat, apa tujuan investasi kita. Ketika tujuan kita adalah menginginkan profit, keuntungan, jauh lebih tepat ketika kita berinvestasi di perusahaan yg jelas memiliki kemampuan untuk meningkatkan nilainya. Ketika tujuan kita adalah untuk menyimpan uang kita, kita bisa menggunakan emas. Misalnya, saya punya uang 5 juta rupiah. Saya ingin uang ini berkembang biak, maka saya bisa meng-investasikannya di “saham yg tepat”. Tapi ketika tujuan saya untuk menabungkannya, saya bisa menggunakan emas daripada saya menabungnya di bank. Kenapa? Ketika saya menyimpan begitu saja, 5 juta tersebut akan terus turun nilainya dalam 5 tahun kdepan. Harga nominal-nya memang tetap 5 juta, tapi “purchase power”nya akan terus turun. Misalnya, saat ini 5 juta bisa digunakan untuk membeli 5 ekor kambing, tapi mungkin besok 5 juta ini hanya sanggup membeli 3 ekor kambing. Berbeda dengan emas, ketika kita menyimpan dalam emas, misalnya, 5 juta ini saat ini bisa dipakai untuk membeli 5 ekor kambing. Kemudian uang ini kita simpan dalam bentuk emas, dan kemudian kita “cairkan” dalam waktu 5 tahun kemudian. Maka, uang tersebut masih memiliki kemampuan untuk membeli 5 ekor kambing. Mungkin saja, harga(price) nominalnya bukan lagi 5 juta, tapi sudah 7 juta. Tapi, nilai(value)nya tetap sama, yaitu 5 ekor kambing.

Jadi, kita perlu kembali lagi tujuan kita untuk berinvestasi di emas. Apakah untuk mempertahankan nilai aset kita (retaining value of asset) atau untuk mencari keuntungan (earning profit).

Yg kedua adalah harga emas yg ditentukan oleh spekulasi investornya. Ini kasusnya sama dengan dotcom buble di era akhir 1990an, ketika banyak orang berinvestasi di perusahaan dotcom karena harganya yg terus meningkat. Mereka berkeyakinan penuh bahwa perusahaan dotcom tersebut memang layak untuk dijadikan investasi. Dan akhirnya, perusahaan teknologi mengalami buble di awal tahun 2000. Nokia, perusahaan paling “sehat”, mengalami penurunan hingga 67%. Cisco dan Motorola turun lebih dari 70%, dah Winstar Communication turun hingga 99.9%. kenapa? Karena pada akhir tahun 1990an, semua orang berkeyakinan bahwa perusahaan perusahaan tersebut akan terus berkembang dan naik harganya, sehingga banyak orang menanam uangnya di perusahaan berbasiskan teknologi. Hal ini menyebabkan harga (price) dari saham saham tersebut jauh melebihi nilai(value)nya. Ketika harganya sudah terlampau tinggi, “balon”pun pecah. Orang bersamaan menjual saham (dengan maksud mengambil keuntungan), tapi kemudian harga saham menukik jatuh, orang semakin takut memegang saham tersebut, dan akhirnya mereka semuanya menjual seluruh saham teknologi yg mereka miliki. Ketika semuanya menjual dan tidak ada yg mau membeli, harga saham pun akhirnya crash yg menyebabkan hancurnya pasar saham teknologi pada saat itu. Begitu juga yg terjadi pada tahun 2008 dengan subprime mortgage crisis.

Detik ini, semua orang (investor) sedang tenggelam dalam euforia meningkatnya harga emas dengan signifikan. Orang semakin banyak yg membeli dan berinvestasi di emas. Saya tidak berani mengatakan bahwa besok harga emas akan jatuh drastis, tapi tidak juga menjamin bahwa harga emas akan sesuai seperti yg diharapkan oleh investor. Saya cenderung pesimis, dan berpikir, harga emas tersebut jika terlampau tinggi, akan ada titik dimana dia kembali ke harga aslinya. Dsini kita perlu berhati hati, karena ketika kita tidak sadar mengambil posisi beli pada saat menjelang “buble”, esok harinya saham akan turun dengan drastis.

Tulisan yg bagus dari artikel yg diberikan teman lama saya, berisikan tentang wawancara kepada Warren Buffet mengenai komentarnya tentang euforia emas belakangan ini. Komentar Buffet sederhana. Intinya, ya, emas memiliki kekuatan melawan inflasi, tapi emas bukan merupakan alat investasi. Misalnya, saya memiliki 100 batang emas. 20 tahun kemudian, berapa emas yg saya miliki? 100 batang emas. Mungkin harganya naik, tapi ingat, value-nya tetap sama. Daya beli-nya tetap sama. Bandingkan ketika saya berinvestasi di perusahaan yg “tepat”. Mungkin 100 batang emas itu menjadi 10 perusahaan exxon mobil, dan kemudian 20 tahun mendatang nilainya senilai dengan 13 perusahaan exxon mobil. Meskipun, tentu saja ada resiko bahwa 100 batang emas itu bisa turun nilainya ketika kita salah memilih perusahaan untuk diinvestasikan. Maka dari itu kembali ke poin awal, kita perlu tahu tujuan kita untuk berinvestasi. Apakah untuk mempertahankan nilai, atau meningkatkan nilai yg kita punya.

Wallahua’lam.

*tulisannya sedikit scattered dan acak2an, tidak berurutan, maaf yaa.. ditulis saat sedang “belajar” audit keuangan PT CNA tahun buku 2010. Seadanya, tapi semoga bermanfaat.

Comments
10 Responses to “Dasar Dasar Pertimbangan Investasi Emas (Catatan #6)”
  1. Ika says:

    hmmm…sptnya referensinya dr buku think dinar deh ki…coz i’ve read this book, and the content is the same

    • syauqimujahid says:

      belum pernah baca buku itu. referensi saya dari Intelligent Investor-nya benjamin graham. sebenernya itu logika sederhana yg bisa terpikir semua orang klo punya pemahaman investasi dan wawasan ekonomi yg baik. :)
      somehow, buku itu juga gak memberikan grafik dari the feds, kan? soalnya sy baru denger buku itu, mungkin next time liat2 di gramed . . .

  2. kopralbowo says:

    Jadi teringat ulasan A Prasetyantoko baik di bukunya “Bencana Finansial” maupun “Ponzi Ekonomi”. Terus menulis …

  3. mpi says:

    dpt link dr twitternya teh asil.. meuni panjang postingannya.. eh pas liat ke bawah pek teh ujang syauqi yg bikin.. mantaaap.. jd kesimpulannya? #terlalupanjangmalasbaca :D

  4. ucik says:

    investasii 5 kambing aja ntar bs jd 10 kambing

  5. anon says:

    ummm, kalo ‘harga’ emas dipengaruhi value, inflasi, & ekspektasi, ‘harga’ asset perusahaan ditentukan apa dong kang :)

    • syauqimujahid says:

      sama, harga saham juga ditentukan oleh ketiga hal tadi. hanya saja secara “value” emas lebihs tabil daripada saham karena supply nya yang terbatas

  6. Angga says:

    Asik Gan baca Blog ente,, ane juga penghobi dunia keuangan, ekonomi dan bisnis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 173 other followers