Mengemis Kasih, sebuah cerita hikmah a.l.a Syauqi

saya gak pernah curhat di blog. Tapi agaknya kali ini cukup bisa membawa hikmah bagi orang lain, so, let’s take a look to my story.

Mungkin bukan rahasia betapa ambisius-nya karakter seorang syauqi. Meminjam karakter Daniel -yg gak tau sama sekali who I am- obsesi saya itu bisa menghancurkan mimpi orang lain. Obsesi saya sangat besar terhadap mimpi mimpi saya, tapi bukan itu yang ini saya bahas kali ini. Saya ingin bahas sisi lainnya : spiritual.

Sejak kecil, saya biasa punya kelompok pengajian, seperti sekelompok mentoring terdiri dari 5 – 12 orang, dan berkumpul setiap pekan untuk mendengarkan materi dari sang mentor (murobbi) dan kemudian mendiskusikannya. Kami menyebutnya halaqoh/liqo. Kabar “baik”nya, saya sudah tidak liqo selama 9 bulan.  And trust me, I’m far far away from my God. Liqo sangat efektif untuk menjadi pengingat kita, karena setiap pekan kita berkumpul.  Wah, ini kelompok luar biasa yang gak akan mau saya tukar berapapun harganya.

Papi minta saya untuk kembali gabung halaqoh lagi sejak sebelum april, sebelum saya berangkat ke Korea. Tapi, akhirnya saya baru “tergerak” untuk liqo lagi selasa kemarin. And trust me, saya mendapatkan ketenangan yang luaarrr biasa saat mendenger taujih dari sang murobbi. Materinya sangat sederhana loh padahal. Begini ceritanya.

Ok, saya yakin sebenernya klo temen2 baca materinya di blog ini, mungkin most of u will say, “what the fuck!! Cuma gitu doang?!”. But trust me it worked in a different way to me. Saya sedang dihadapi kekecewaan yang luar biasa. Dalam beberapa bulan ini saya struggling untuk mengembangkan debating class di IM Telkom. Compared to those ITB, UI, atau UGM debaters, IM Telkom masih terbilang cupu. Tapi, sadly I must say, I’m the best in IM Telkom, eventhou I don’t even can’t challenge ITB or UI in competition. Kebayangkan, klo orang cupu kayak saya aja terbaik di IM Telkom, gimana yang lain? IM Telkom sudah 3 kali breaking di kompetisi nasional, dan ketiganya, I take a part of them (maksudnya, saya –dan tim- yang melakukan ketiganya).

Nah, singkat cerita, saya kecewa karena banyak angkatan saya yg vacuum atau keluar. Saya melakukan affirmative action untuk menampar mereka, that “hey wake up, kalian semua keluar dan WHO THE FUCK WILL STAY IN DEBATING CLASS !!!!”. dan u know what? Alasan tentu bisa bermacam2. I don’t care. Akhirnya karena jengah, saya membangun tim latihan saya sendiri dengan beberapa junior yg punya loyalitas, komitmen, dan semangat belajar yg tidak mudah patah, serta satu orang teman seangkatan yang pekerja keras dan pembelajar luar biasa, rurri. Kami secara rutin latihan, membangun sistem sendiri, membangun nama tim kami sendiri. Dan u know what? Tiba2 mereka “ribut” karena merasa saya mengambil alih organisasi, bikin organisasi tandingan, WTF!? Selama ini debating class mati aja mereka gak peduli, why the hell sekarang mereka jadi ribut dan heboh? Satu hal yg saya sadari: mereka takut. Mereka sadar what I did, klo saya bener2 memisahkan diri, means that they will lose their biggest and strongest asset. but that’s not the point. I don’t even think to make “organisasi tandingan”. Hal kedua yg gw marah, mereka bicara banyak hal buruk dibelakang. I also did it sometimes, I admit it. tapi untuk suatu hal, dimana gw berjuang untuk organisasi mereka, bahkan ketika mereka “untuk sementara waktu tidak peduli ke kelas ini”, dan memberikan banyak achievement untuk organisasi mereka, dan tanggapan mereka, “who the are syauqi?!”. WTF !? gw jawab, “I’m the only one who cares about the future of this class. My question is, who the hell are you all, ngilang untuk waktu yg lama, dengan banyak macam alasan, dan tiba2 sekarang ribut!?”. Somehow, ada ato gak ada latihan kelas debat, mereka juga for sure gak akan peduli. Selama ini gw undang mereka latihan, SEMUANYA, baik yang state sibuk organisasi lain, yg gak ikut organisasi lain, semuanya, mereka ngilang. Gak ada yg datang, kecuali my 7 great team members.

So, saya kecewa, dan akhirnya saya resign dari kelas debate ini. Ok, jujur aja nih, sejak saat itu, I don’t think it is my family anymore.  I don’t deserve this. Anyway, singkat cerita, 2 minggu semenjak puncaknya keributan itu, saya datang liqo. Nah, ini yang menarik. Sang murobbi berkata, “mengapa manusia itu hancur? Karena mereka mengharapkan apresiasi dari orang lain. Masalahnya, orang lain juga punya kecacatan masing-masing. Tidak ada yg sempurna. Itulah alasan mengapa kita harus melakukan segala sesuatu karena Allah. Ini yang dinamakan ikhlas. Apapun yang kita lakukan, perjuangan kita, semua ter-apresiasi secara objektif oleh-Nya. Ingat lagu mengemis kasih? Liriknya kan begini,

Tuhan dulu pernah, aku menagih simpati

Kepada manusia, yang alpa juga lupa

Lalu terseret lah, aku di lorong gelisah

Luka hati yg berdarah, kini jadi kian parah.

Coba kamu perhatikan lirik lagunya, itulah ketika kita memiliki pengharapan pada manusia. Makhluk yang penuh dengan kekurangan, lupa, ego-sentris. Jangan salahkan mereka, sejak awal kita yg salah karena kita mengharapkan mereka. Harapkan pada Allah, itu yang disebut ilmu ikhlas. Ketika kita bicara tentang apa yang orang lain pikirkan, you are a foolish. Mengapa? Karena setiap orang akan punya pandangan berbeda. Disamping itu, orang lain tidak memiliki “pandangan” dari sudut kita, sehingga mereka akan mudah untuk menyalahkan. Begitupun sebaliknya. Maka, kita lupakan saja.”

And trust me, saya langsung download lagu itu. Itu lagu yg saya dengar sejak SD, tapi udah lama banget gak di denger. Dulu denger lagu itu cuma sekelewat aja, belum memahami maknanya, sekarang saya paham.

Saya baru mengerti kenapa saya gak bisa menangis ketika tahajud, tapi papi setiap kali tahajud, selalu nangis kayak anak kecil sampe matanya merah. Ada level dimana keimanan itu, memang harus diperjuangkan. Untuk orang yg ambisius, penuh obsesi, gak suka kalah, dan tentunya jenius (halah) seperti saya, ketenangan adalah hal yg tidak mudah diraih. Saya melihat segala sesuatu sebagai “tantangan”. Keimanan adalah tempat dimana saya dapat meraihnya. Screw people. Screw money. Screw trophies. Screw what they say.

In God I Trust.

By the way, mengenai teman2 saya itu, I don’t care. Beberapa junior bertanya, “a, koq katanya sibuk n gbisa debat, tapi koq itu bisa ikut kompetisi yg lain?”. I said, yasudah biarkan saja, kita fokus aja latihan yuk.

Sometimes kita mengurusi urusan orang lain, menghabiskan banyak energi untuk itu, padahal jika kita mengalihkan energi itu untuk pengembangan diri kita, kita akan menemukan betapa hebatnya diri kita. I don’t wanna care what people did, I do care what I’ve been doing to reach my dream. J Zhang !!

 

Comments
2 Responses to “Mengemis Kasih, sebuah cerita hikmah a.l.a Syauqi”
  1. kamila ^^ says:

    Semangat! ^o^p
    ~seneng bacanya… ~~~~

  2. meilinda w says:

    jangan berharap lebih pada manusia. itu aja pegangannya. klopun mau berharap sama manusia, ya berharap lah sama diri sendiri, even it’s your family, ada aja satu dua masa kita bakal “ngerasa” dikecewain. jd emg bener kok “ALLAH itu pegangan yg gak akan pernah putus”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 173 other followers